Teman, sore ini awan berbentuk seperti pada umumnya, matahari pun tak jauh beda, angin yang berhembus pun seperti biasa saja. Tapi, apa sebenarnya yang terjadi ?, kewajaran ini tak bisa ku rasakan.
sepertinya sesuatu telah terjadi padaku, 'Aku',yang telah berumur puluhan tahun ini, merasa : mataku mulai tertutup, mulutku tak pernah berhenti menyakiti, tanganku semakin ringan melayang, kakiku semakin berat melangkah, dan dadaku membusung seolah langit akan ku taklukkan.
Untung sore ini ada anak kecil itu, berlari-lari, tertawa-tawa, bermain canda, berteriak, terjatuh, seolah matahari adalah sebuah mainan, bulan adalah sebuah bola, tanah adalah sebuah permadani, dia terguling berputar, mengusap keringat dengan tangan penuh lumpur, ada tangisan, ada senyuman, sakit yang dia rasakan bagai debu diatas batu tersapu air, akan bersih selamanya.
Aku pun mulai ikut tertawa bersama mereka, menertawakan diri yang lucu ini. Ingin sekali aku berbincang dengan anak kecil itu. Tapi, ah, dia kan masih anak kecil, apa dia tau apa yang akan ku katakan nanti ?, apa tanggapannya jika aku berkata bahwa aku telah menyakiti orang dan aku sekarang merasa bersalah ?. apa reaksinya jika aku katakan, hidup ini begitu sulit ? . Sial !, aku sangat iri dengannya.
*plak, Bodohnya aku, tak perlu pun ku tanyakan, dia telah menjawab, menjawab dengan senyuman yang polos, tertawa yang lepas, tangisan yang pura-pura, serta permainan yang tiada henti.
Ku peluk dia, dan ku katakan dalam hati , " Dik, dirimu lebih dewasa dariku. Umurku lebih banyak, tapi umur ini bukan menandakan berpengalaman, dulu ku sama sepertimu, tapi kenapa sekarang aku jauuuh berbeda darimu, kau belum tau baik dan buruk, tapi aku lebih tidak tau itu."
Jaman hanya sebuah tulisan, umur hanya sebuah legalitas, masih saja ku bilang dia masih kecil ?, Justru aku lah yang kecil.
'Itu' saja yang besar, tapi 'ini' kecil...
Sungguh, Hatimu lebih besar di ruang dada yang kecil...
Sore yang indah :)
sepertinya sesuatu telah terjadi padaku, 'Aku',yang telah berumur puluhan tahun ini, merasa : mataku mulai tertutup, mulutku tak pernah berhenti menyakiti, tanganku semakin ringan melayang, kakiku semakin berat melangkah, dan dadaku membusung seolah langit akan ku taklukkan.
Untung sore ini ada anak kecil itu, berlari-lari, tertawa-tawa, bermain canda, berteriak, terjatuh, seolah matahari adalah sebuah mainan, bulan adalah sebuah bola, tanah adalah sebuah permadani, dia terguling berputar, mengusap keringat dengan tangan penuh lumpur, ada tangisan, ada senyuman, sakit yang dia rasakan bagai debu diatas batu tersapu air, akan bersih selamanya.
Aku pun mulai ikut tertawa bersama mereka, menertawakan diri yang lucu ini. Ingin sekali aku berbincang dengan anak kecil itu. Tapi, ah, dia kan masih anak kecil, apa dia tau apa yang akan ku katakan nanti ?, apa tanggapannya jika aku berkata bahwa aku telah menyakiti orang dan aku sekarang merasa bersalah ?. apa reaksinya jika aku katakan, hidup ini begitu sulit ? . Sial !, aku sangat iri dengannya.
*plak, Bodohnya aku, tak perlu pun ku tanyakan, dia telah menjawab, menjawab dengan senyuman yang polos, tertawa yang lepas, tangisan yang pura-pura, serta permainan yang tiada henti.
Ku peluk dia, dan ku katakan dalam hati , " Dik, dirimu lebih dewasa dariku. Umurku lebih banyak, tapi umur ini bukan menandakan berpengalaman, dulu ku sama sepertimu, tapi kenapa sekarang aku jauuuh berbeda darimu, kau belum tau baik dan buruk, tapi aku lebih tidak tau itu."
Jaman hanya sebuah tulisan, umur hanya sebuah legalitas, masih saja ku bilang dia masih kecil ?, Justru aku lah yang kecil.
'Itu' saja yang besar, tapi 'ini' kecil...
Sungguh, Hatimu lebih besar di ruang dada yang kecil...
Sore yang indah :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar